Praktikum ke-8                                                            Hari/ Tanggal:: Jumat 7 Mei 2010

M.K Pengembangan Masyarakat                     Tempat           : 16 FAC 401 C

Bahan Bacaan:

Komunikasi dan Komunitas di Indonesia : Penghancuran dan Penumbuhan kembali Modal Sosial di Maluku

(Shoemake Ann)

Asisten:

Sriwulan F.

Oleh:

Anisa Cahya Ningrum (I34080066)

  1. Proses-proses komunikasi dalam pengembangan masyarakat diantaranya peran interaksi tatap muka dalam pembentukan komunitas tidak bisa digantikan. Kekuatan komunitas pada tingkat yang paling dasr terletak pada hubungan interpersonal. Apabila melihat kasus di Indonesia, komunikasi tatap muka lebihmemiliki “bobot” komunikatif ketimbang komunikasi berperantara.

Komunikasi tatap muka menjadi lebih penting dan menjadi sarana utama komunikasi melalui komunikasi tatap mukalah integritas orang diuji,rasa percaya dibentuk, dan kontak sosial dibuat dan dipelihara. Interaksi tatap muka harian antara anggota komunikasi muslim dan kristenadalah salah satu cara untuk memperkuat rasa komunitas dan menjamin bahwa anggota komunitas sungguh-sungguh terikat dan tetap setia dengan rasa kemanusiaan bersama mereka pembentukan komunitas haruslah secara sukarela dan berlandaskan pada nilai-nilai bersama dan bukannya dipaksakan secara mekanis.

Peran pers terutama pers lokal sebagai kunci pengembangan dan pelestarian modal sosial di Maluku pemeluk dua agama ini memiliki ikatan formal tradisional dalam bentuk sistem aliansi yang disebut pela, dimana desa-desa kristen dengan desa-desa muslim yang berdekatan dan terlibat dalam gotong royong. Mekanisme pela memformalkan kesalingtergantungan antar muslim dan kristen. Komunitas di Idamdehe melihat pendidikan sebagai landasan komunitas dan menyatu dengan proses pemulihan dalam masyarakat.contohnya dalam pembanguna sekolah, sifat partisipatif pembanguna sekolah ini menjadi perantara pemulihan kembali dan penguatan kembali ikatan komunitas.Dewan sekolah dibentuk terdiri dari orang-orangmuslim, katolik, dan protestan. Hal itu melambangkan sifat plural idamdehe dan pentingnya pemeliharaan pluralitas oleh komunitas. Partisipasi sukarela individual dalam komunikasi dengan individu lain sebagai essensial untuk mengidentifikasi kesamaan dan pembentukan sertapenguatan ikatan komunal, bibit-bibit pemulihan terletak pada warga itu sendiri.

  1. Elemen –eleman komunikasi yang dapat diidentifikasi dalam artikel tersebut diantanya:
  • The number of participants:

Partisipasi sukarela individual dalam komunikasi dengan individu lain sebagai essensial untuk mengidentifikasi kesamaan dan pembentukan sertapenguatan ikatan komunal, bibit-bibit pemulihan terletak pada warga itu sendiri. Komunitas di Idamdehe melihat pendidikan sebagai landasan komunitas dan menyatu dengan proses pemulihan dalam masyarakat, sifat partisipasi pembangunan sekolah ini menjadi perantar pemulihan kembali dan penguatan kembali ikatan komunitas.

  • Publicness:

Peran pers indonesia dalam memperburuk konflik dan karenanya membawa ke kerusakan pers sangat ketat dikontrol oleh negara dan apa yang disebut sebagi “berita’ sudah menjadi rahasia umum bahwa itu kabar setengah benar baik di pers nasional maupun lokal.

  • Fungsi Informasi, interpretasi, dan entertainment:

Interaksi tatap muka harian antara anggota komunikasi muslim dan kristenadalah salah satu cara untuk memperkuat rasa komunitas dan menjamin bahwa anggota komunitas sungguh-sungguh terikat dan tetap setia dengan rasa kemanusiaan bersama mereka

  • Cultural Group:

Sistem Hubungan pela gendong dimana desa-desa kristen dipasangkan dengan desa-desa muslim yang berdekatan dan kedua komunitas ini terlibat dalam gotong-royong jika ada kegiatan-kegiatan yang memerlukan banyak tenaga.

iii.        cara membangun komunkasi sosial di komunitas tersebut daolam konteks pengembangan masyarakat dengan sistem hubungan pela gendong dimana desa-desa kristen dengan desa-desa muslim yang berdekatan dan terlibat dalam gotong royong. Partisipasi sukarela individual dalam komunikasi dengan individu lain sebagai essensial untuk mengidentifikasi kesamaan dan pembentukan sertapenguatan ikatan komunal, bibit-bibit pemulihan terletak pada warga itu sendiri.

Tugas Makalah Akhir                                          Hari/tanggal: jumat 8 Januari 2010

Mata Kuliah     : Berpikir dan Menulis Ilmiah

Dosen              : Ekawati Sriwahyuni

Asisten : Mahmudi Siwi

Topik               : Pelapisan Sosial

Judul                : Pengaruh Pelapisan Sosial Terhadap Pola kehidupan Masyarakat

Kelompok        : Lima

Nama               : Anisa Cahya Ningrum (I34080066)

Abstrak

Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang terjadi pada pelapisan sosial dalam pola kehidupan masyarakat,bagaimana proses terbentuknya pelapisan sosial dan apa saja yang menjadi ukuran untuk menggolongkan orang dalam pelaisan sosial. Kesimpulan yanng didapat dari penulisan makalah ini bahwa pelapisan sosial akan selalu terjadi dalam suatu masyarakat selama ada suatu hal yang dianggap benilai dalam suatu masyarakat.dan orang yang semakin banyak yang mendapatkan hal yang dianggap bernilai tersebut maka orang tersebut menempati kedudukan yang tinggi dalam masyarakat tersebut.

Arrange this newspaper aims for identification factors that happens social stratification in life design society, how formation process  social stratification and what value can be clasify people in to stratification. The conclusion from this newspaper is social stratification will be happens in a society even there are a something value that consider in that society and important people to get it. People who get that value more and more so that people in high stratification and have prestige.

Ringkasan

Pelapisan sosial merupakan gejala umum yang dapat ditemukan di setiap masyarakat pada segala zaman Sosiologi pedesaan merupakan spesialisasi ilmu yang ada dalam sosiologi. Sasaran utama sosiologi adalah masyarakat. Masyarakat selalu berubah, antara masyarakat yang satu dan masyarakat yang lain memiliki perubahan yang berbeda-beda.

Pelapisan sosial terjadi karena kehidupan manusia tidak terlepas dari nilai. Keberadaan nilai selalu mengandung kelangkaan, tidak mudah didapat, dan oleh karena itu memberi “harga” pada penyandangnya. Siapa yang mendapat lebih banyak “hal yang bernilai” semakin terpandang dan tinggi kedudukannya. Apa yang dipandang bernilai tinggi dalam kehidupan manusia tidaklah sama pada setiap masyarakat. Bagi masyarakat desa yang dipandang bernilai adalah lahan  pertanian.

Beberapa ahli menggolongkan Pelapisan social dalam beberapa tingkatan berdasarkan ukuran. Pelapisan Sosial akan selalu terjadi selama adanya suatu hal yang dianggap berharga dalam suatu masyarakat. Pelapisan social merupakan hasil dari kebiasaan manusia berhubungan antara satu dengan yang lain secara teratur dan tersusun secara perorangan maupun kelompok, setiap orang akan mempunyai situasi social.

Adapun faktor-faktor terbentuknya Pelapisan social terjadi dengan sendirinya karena adanya seperti kepandaian, tingkat umur, sifat keaslian. Proses terbentuknya pelapisan social karena adanya suatu hal yang dianggap berharga.Hal yang dianggap berharga itu diantaranya : uang atau harta benda, kekuasaan, ilmu pengetahuan,dsb. Barangsiapa yang dapat memiliki sesuatu yang dihargai tadi akan dianggap oleh masyarakat sebagai orang yang menduduki lapisan atas dalam stratifikasi social. Kriteria dalam menggolongkan orang dalam pelapisan diantaranya ukuran kekayaan,Ukuran kekuasaan, Ukuran Kehormatan, Ukuran Ilmu pengetahuan.

Kesimpulan yang bisa diambil pelapisan sosial akan terus terjadi selama ada suatu hal yang dianggap berharga dalam suatu masyarakat. Semakin tinggi tingkat diferensiasi maka semakin banyak hal yang bisa menimbulkan suatu pelapisan dalam suatu masyarakat. Apabila tingkat diferensiasinya rendah maka pelapisan social juga kurang terlihat.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Masyarakat merupakan suatu kesatuan yang didasarkan ikatan-ikatan yang sudah teratur dan boleh didasarkan stabil. Sehubungan dengan ini maka dengan sendirinya masyarakat merupakan kesatuan yang dalam pembentukannya mempunyai gejala yang sama. Istilah stratifikasi diambil dari bahasa Inggris yaitu stratification, berasal dari kata strata, atau stratum yang berarti lapisan. Oleh sebab itu social stratification sering diterjemahkan dengan pelapisan masyarakat atau pelapisan sosial. Sejumlah individu yang mempunyai kedudukan (status) yang sama menurut ukuran masyarakat dikatakan berada dalam suatu lapisan stratum. Pitirim A. Sorokin memberikan definisi suatu masyarakat sebagai berikut : suatu masyarakat ialah perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas yang tersusun secara bertingkat (hierachis).

Menurut John M. Gillette (1922:6) sebagaimana dikutip oleh Raharjo (2004:13) Sosiologi pedesaan adalah cabang sosiologi yang secara sistematik mempelajari komunitas-komunitas pedesaan untuk mengungkapkan kondisi-kondisi serta kecenderungan-kecenderungannya dan merumuskan prinsip-prinsip kemajuan. Pelapisan sosial  merupakan salah satu hal yang dikaji dalam sosiologi pedesaan. Pelapisan sosial terjadi dengan sendirinya dan dengan disengaja. Adapun orang-orang yang menduduki lapisan tertentu dibentuk bukan berdasarkan atas kesengajaan yang disusun sebelumnya oleh masyarakat itu tetapi berjalan secara alamiah dengan sendirinya. Oleh karena itu sifatnya yang tanpa disengaja inilah maka bentuk pelapisan dan dasar dari pelapisan itu bervariasi menurut tempat, waktu dan kebudayaan masyarakat dan yang disengaja pelapisan yang disusun dengan ditunjukkan untuk mengejar tujuan bersama. Di dalam sistem pelapisan ini ditentukan secara jelas dan tegas adanya wewenang dan kekuasannya yang diberikan kepada seseorang.

Beberapa pemikiran tentang pelapisan sosial ini muncul karena adanya ketidaksamaan status-status diantara individu-individu serta adanya ukuran tentang apa yang sangat dihargai dan dijadikan ukuran oleh masyarakat. Penghargaan yang lebih tinggi terhadap hal-hal tertentu akan menempatkan hal tersebut pada kedudukan yang lebih tinggi dari hal-hal lainnya. Kalau masyarakat lebih menghargai kekayaan material daripada kehormatan misalnya, mereka yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan pihak-pihak lainnya, gejala tersebut menimbulkan lapisan masyarakat yang merupakan pembedaan posisi seseorang atau suatu kelompok dalam kedudukan yang berbeda-beda secara vertikal dan selanjutnya Soemarjan dan Soelaeman Soemardi membagi pelapisan sosial ini menjadi beberapa lapisan yakni :

1.Masyarakat yang terdiri dari kelas atas (upper class) dan kelas bawah (lower class).

2.Masyarakat yang terdiri dari kelas atas (upper class), kelas menengah (middle class) dan kelas bawah (lower class).

3.Masyarakat yang terdiri dari kelas atas (upper class), kelas menengah (middle class), kelas menengah bawah (lower middle class) dan kelas bawah (lower class).

Orang-orang yang berada pada kelas bawah (lower) biasanya lebih banyak (mayoritas) daripada di kelas menengah (middle) apalagi pada kelas atas (upper). Semakin keatas semakin sedikit jumlah orang yang berada pada posisi kelas atas (upper class).

1.2.Rumusan Masalah

1.Apa yang dimaksud dengan pelapisan sosial itu ?

2.Faktor apakah yang terjadi pada pelapisan sosial di dalam kehidupan masyarakat ?

3.Mengapa pelapisan sosial dalam masyarakat terbentuk ?

1.3.Tujuan dan Manfaat

1.Untuk mengetahui apa saja yang dimaksud dengan pengaruh pelapisan sosial.

2.Agar mengetahui bagaimana pelapisan sosial bisa terjadi di kalangan masyarakat.

3. Untuk melatih diri mengemukakan pendapat dalam bentuk karya tulis.

1.4.Metode

Sesuai dengan tujuan penulis telah mendeskripsikan masalah yang ada sekarang ini, maka studi menggunakan deskriptif sebuah metode dimaksud semua informasi mengenai status yang ada.

(a). Metode Pengumpulan Data

Studi pustaka secara keseluruhan merupakan studi kepustakaan dengan semua kajian ini dan dikumpulkan buku-buku atau penerbit-penerbit tentang masalah yang akan dibahas.

(b). Metode analisis Data

Berdasarkan metode pengumpulan data di atas maka metode pengumpulan data dalam studi pustaka terdiri dari :

Analisis Deskriptif yang digunakan untuk masalah-masalah yang akan dibahas dan dipelajaran untuk tugas ini serta digunakan pula untuk memperoleh kesimpulan guna untuk memperoleh kelengkapan kerangka pencapaian tujuan.

1.5.Sistematika Penulisan

Penulisan makalah ini sebagai berikut :

Bab Satu merupakan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan.

Bab Dua merupakan Pembahasan yang terdiri dari Pengertian pelapisan sosial, Proses Terbentuknya Pelapisan Sosial, Faktor-Faktor Terbentuknya Pelapisan Sosial,Kriteria yang Dipakai untuk Menggolongkan Orang dalam Pelapisan,Sifat Sistem Pelapisan Sosial

Bab Tiga adalah penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Pelapisan Sosial

”Pelapisan masyarakat muncul sejak manusia mengenal adanya kehidupan bersama didalam suatu organisasi sosial” (Prasodjo dan panjaitan,2003). Pelapisan sosial merupakan gejala umum yang dapat ditemukan di setiap masyarakat pada segala zaman. Betapapun sederhananya suatu masyarakat gejala ini pasti dijumpai. Pada sekitar 2000 tahun yang lalu, Aristoteles menyatakan bahwa di dalam setiap negara selalu terdapat tiga unsur yaitu mereka yang kaya sekali, mereka yang melarat dan mereka yang ada di tengah-tengah. Adam Smith membagi masyarakat ke dalam tiga kategori yaitu orang-orang yang hidup dari penyewaan tanah, orang-orang yang hidup dari upah kerja, dari keuntungan perdagangan. Sedangkan Thorstein Veblen membagi masyarakat ke dalam dua golongan yang pekerja, berjuang untuk mempertahankan hidup dan golongan yang banyak mempunyai waktu luang karena kekayaannya. Pernyataan tiga tokoh di atas membuktikan bahwa pada zaman ketika mereka hidup dan dapat diduga pula pada zaman sebelumnya, orang-orang telah meyakini adanya sistem pelapisan dalam masyarakat, yang didalam studi sosiologi disebut pelapisan.

Pelapisan sosial dapat diartikan sebagai pembedaan penduduk atau para warga masyarakat ke dalam kelas secara hierarkis (bertingkat). Perwujudan adanya kelas-kelas tinggi dan kelas-kelas yang lebih rendah di dalam masyarakat.
Di dalam masyarakat terdapat pelapisan sosial yang akan selalu ditemukan dalam masyarakat selama di dalam masyarakat tersebut terdapat sesuatu yang dihargai demikian menurut Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi dalam bukunya “Setangkai Bunga Sosiologi”, sesuatu yang dihargai itu adalah uang atau benda-benda yang lain yang bernilai ekonomis, politis, agamis, sosial maupun kultural.
Adanya kelas yang tinggi dan kelas yang rendah itu disebabkan karena di dalam masyarakat terdapat ketidakseimbangan atau ketimpangan (inequality) dalam pembagian sesuatu yang dihargai yang kemudian menjadi hak dan kewajiban yang dipikul dari warga masyarakat ada segolongan orang yang mendapatkan pembagian lebih besar dan ada pula mendapatkan pembagian lebih kecil, sedangkan yang mendapatkan lebih besar mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi, yang mendapatkan lebih kecil menduduki pelapisan yang lebih rendah. Pelapisan mulai ada sejak manusia mengenal adanya kehidupan bersama atau organisasi sosial.
Pelapisan sosial merupakan hasil dari kebiasaan manusia berhubungan antara satu dengan yang lain secara teratur dan tersusun biak secara perorangan maupun kelompok, setiap orang akan mempunyai situasi sosial (yang mendorong untuk mengambil posisi sosial tertentu).

2.2.Faktor-Faktor Terbentuknya Pelapisan Sosial


Faktor-faktor terbentuknya pelapisan sosial yang terjadi dengan sendirinya seperti kepandaian, tingkat umur, sifat keaslian di dalam kerabat pimpinan masyarakat serta pemilikan harta antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain mempunyai alasan yang berbeda-beda sebagai bentuk pelapisan sosial. Misalnya pada masyarakat yang hidup berburu binatang yang dijadikan alasan utama adalah kepandaian berburu hewan sedangkan pada masyarakat yang telah hidup menetap dan bercocok tanam dari para pembuka lahan yang asli dianggap sebagai golongan yang menduduki pelapisan yang lebih tinggi. Pada masyarakat yang taraf kehidupannya masih rendah pelapisan masyarakat mula-mula ditentukan dengan dasar perbedaan seksual (jenis kelamin). Perbedaan antara yang memimpin dengan yang dipimpin, golongan budak atau bukan budak, dapat juga berbeda karena kekayaan atau usia.

Menurut Nuraini W. Prasodjo dan Nurmala K. Panjaitan dalam buku diktat Sosiologi Umum menjelaskan bahwa pelapisan sosial itu terjadi karena :

  1. Adanya proses-proses kelembagaan yang menetapan suatu tipe barang dan jasa tertentu sebagai tertentu sebagai sesuatu yang dianggap bernilai dan diinginkan.
  2. Adanya aturan-aturan alokasi yang mendistribusikan barang dan jasa tersebut kepada beragam kedudukan-kedudukan atau pekerjaan
  3. Adanya mekanisme mobilitas (gerak berubah) yang mengkaitkan antara individu-individu dengan pekerjaannya atau kedudukan itu.

2.3.Proses Terbentuknya Pelapisan Sosial

Mengenai pelapisan sosial yang sengaja disusun untuk mengejar kepentingan atau tujuan tertentu biasanya berkaitan dengan pembagian kekuasaan yang resmi misalnya yang terjadi dalam perkumpulan-perkumpulan formal (seperti pemerintah, negara, perusahaan-perusahaan, partai politik atau perkumpulan profesi dan lain-lain. Untuk lebih memahami mengenai proses pembentukan pelapisan sosial ada beberapa pedoman yang dirumuskan oleh Soerjono Soekanto dalam bukunya yang berjudul “Sosiologi, Suatu Pengantar” sebagai berikut :

  1. Sistem pelapisan sosial mungkin berpokok kepada sistem pertentangan dalam masyarakat.
  2. Sistem pelapisan dalam masyarakat dapat dianalisis di dalam ruang

lingkup :

  1. Distribusi hak-hak istimewa yang obyektif.
  2. Sistem pertentangan yang diciptakan oleh para warga masyarakat (prestise dan  penghargaan)
  3. Kriteria sistem pertentangan yaitu apakah didapat berdasarkan kualitas pribadi, keanggotaan kelompok kerabat tertentu, milik wewenang dan kekuasaan.
  4. Lambang-lambang kedudukan misalnya tingkah laku hidup, cara berpakaian, perumahan, keanggotaan pada suatu organisasi dan sebagainya.
  5. Mudah atau sukarnya bertukar kedudukan.
  6. Solidaritas antara individu atau kelompok sosial yang menduduki kedudukan yang sama dalam sistem sosial masyarakat.

Selama dalam suatu masyarakat ada sesuatu yang dihargai maka hal itu merupakan bibit terbentuknya pelapisan sosial. Sesuatu yang dihargai itu dapat berupa uang atau harta benda, kekuasaan, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Barang siapa yang dapat memiliki sesuatu yang dihargai tadi akan dianggap oleh masyarakat sebagai orang yang menduduki pelapisan atas, sebaliknya mereka yang hanya sedikit memiliki atau bahkan sama sekali tidak memiliki sesuatu yang dihargai tersebut mereka akan dianggap masyarakat sebagai orang-orang yang menempati pelapisan bawah atau berkedudukan rendah. Biasanya golongan yang menduduki pelapisan atau tidak hanya memiliki satu macam saja dari apa yang dihargai oleh masyarakat. Penempatan orang-orang kedalam suatu pelapisan di dalam suatu pelapisan sosial bukanlah menggunakan ukuran yang tunggal melainkan bersifat kumulatif, artinya mereka yang misalnya mempunyai uang banyak akan mudah sekali mendapatkan tanah kekuasaan dan mungkin juga kehormatan.

2.4.Kriteria yang Dipakai untuk Menggolongkan Orang dalam Pelapisan

Ukuran atau kriteria yang dipakai untuk menggolongkan orang dalam pelapisan tersebut (Calhoen dalam Soekanto, 1986) adalah sebagai berikut :

1.Ukuran kekayaan, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak, ia akan menempati pelapisan di atas. Kekayaan tersebut misalnya dapat dilihat dari bentuk rumah, mobil pribadinya, cara berpakaian serta jenis bahan yang dipakai, kebiasaan atau cara berbelanja dan seterusnya.

2.Ukuran kekuasaan, barang siapa yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar akan menempati pelapisan yang tinggi dalam pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan.

3.Ukuran kehormatan, orang yang disegani dan dihormati akan mendapat tempat atas dalam sistem pelapisan sosial. Ukuran semacam ini biasanya dijumpai pada masyarakat yang masih tradisional. Misalnya, orangtua atau orang yang dianggap berjasa dalam masyarakat atau kelompoknya. Ukuran kehormatan biasanya lepas dari ukuran-ukuran kekayaan dan kekuasaan.

4.Ukuran ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan digunakan sebagai salah satu faktor atau dasar pembentukan pelapisan sosial didalam masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan.

2.5 Sifat Sistem Pelapisan Sosial

Ada dua Jenis pelapisan sosial yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup.yang membedakannya adalah kriteria pelapisan dan konsekuensi terhadap peluang mudah atau sukarnya bertukar kedudukannya (lapisan).

Dalam sistem pelapisan sosial tertutup sistem sosial yang berlaku adalah ascribed status Artinya kedudukan seseorang dalam masyarakat diperoleh karena kelahiran.Sedangkan dalam sistem pelapisan sosial terbuka sistem status yang berlaku adalah achieved status artinya kedudukan seseorang diperoleh atas usaha sendiri melalui beragam saluran.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pelapisan sosial merupakan suatu kesatuan dari sistem sosial. Selama dalam suatu masyarakat ada sesuatu yang dihargai maka hal itu merupakan bibit terbentuknya pelapisan sosial.Sesuatu yang dihargai itu dapat berupa uang atau harta benda, kekuasaan, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Orang yang semakin banyak hal yang dianggap berharga itu di dapat maka orang tersebut menempati posisi yang tinggi dalam stratifikasi.Apabila tingkat diferensiasinya rendah maka pelapisan sosialnya juga kurang terlihat.

3.1 Saran

Pelapisan masyarakat memang akan  selalu terjadi dalam suatu masyarakat namun jangan sampai menghasilkan kesenjangan yang terlalu jauh antara orang yang berada dalam posisi stratifikasi. Dalam Kehidupan modern sistem sosial yang ada adalah sistem sosial terbuka, bagi siapa saja yang berusaha bisa menduduki dalam sistem lapisan atas.

DAFTAR PUSTAKA

Kolopaking,Lala M, Fredian Tonny,MT.Felix Sitorus,Titik Sumarti,Arya

H,Dharmawan, dan Iman K. Nawireja.2003. Sosiologi Umum.Bogor : jurusan

Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian IPB dan Pustaka Wirausaha Muda Bogor.

Pitirim A. Sorokin.1928. Contemporary Sociological Theories. New york : Harper &

row

Raharjo.2004.Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian.Yogyakarta: Gadjah Mada

University Press.

Soemardjan dan Soelaeman Soemardi.1964. Setangkai Bunga Sosiologi.Jakarta :

Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi UI.

Soerjono Soekanto. 1986. Sosiologi, Suatu Pengantar. Jakarta: CV Rajawali.

Implementasi Teknologi Informasi

dalam Dunia Kerja

Oleh :

Anisa Cahya Ningrum ( I34080066)

Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Fakultas Ekologi Manusia

Institut Pertanian Bogor

2010

Implementasi Teknologi Informasi dalam Dunia Kerja

Implementasi IT untuk mendukung kegiatan operasional suatu organisasi baik dalam skala kecil maupun besar, berkembang menjadi kebutuhan mendasar dalam menghadapi era global dan Good Governance. Barbagai perangkat IT untuk infrastruktur, service, maupun aplikasi, saat ini sangat banyak tersedia di pasaran dalam berbagai bentuk dan fungsinya. Hal ini menyebabkan banyaknya alternatif solusi IT yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan kebijakan pengembangan organisasi. Implementasi IT dalam kegiatan operasional organisasi

akan memberikan dampak yang cukup signifikan bukan hanya dari segi effisiensi kerja tetapi juga terhadap budaya kerja baik secara personal, antar unit, maupun keseluruhan institusi. Pengelolaan administrasi berbasis IT digunakan sebagai kasus pada pembahasan ini. Kajian strategi akan lebih difokuskan terhadap pengembangan SDM untuk mendukung optimalisasi pada implementasi IT sejak tahap perencanaan, pengembangan, alih kelola, operasional sampai dengan tahap pemeliharaan.

Beberapa perangkat berbasis teknologi informasi yang sering digunakan antara lain:

1.Komputer

Komputer diperlukan untuk menerima dan mengolah data menjadi informasi yang dapat diakses secara cepat dan tepat. Perangkat komputer ini akan digunakan untuk menyimpan data arsip perusahaan, data karyawan Perusahaan , dan. Komputer itu juga bisa dikoneksikan ke internet.

2.Internet

Salah satu manfaat internet dalam pengelolaan perpustakaan adalah sebagai piranti untuk mengakses informasi multimedia dari internet, serta sebagai sarana telekomunikasi dan pendistribusian informasi. Koneksi internet juga bisa dimanfaatkan untuk membuat email ataupun urusan lain yang berhubungan dengan kelancaran bisnis., serta bisa digunakan untuk menyebarluaskan katalog dan informasi kegiatan yang dibutuhkan perusahaan.

3.Software

Untuk mempermudah penyajian informasi, diperlukan software khusus

untuk mendukung kelancaran bisnis ataupun mengerjakan pekerjaan kantor. Ada beberapa jenis software yang umum digunakan di sebuah perusahaan adalah:

Microsoft Word

n      Word Processor adalah program bantu yang mampu mengolah kata dan kalimat untuk suatu tujuan tertentu.

n      Word Processor membantu dalam hal pengetikan, pemformatan, pencetakan, dan presentasi tampilan

MS Word merupakan salah satu program pengolah kata yang sangat terkenal dan dipakai oleh banyak sekali orang maupun perusahaan di seluruh dunia. Word merupakan salah satu anggota dari keluarga besar Microsoft Office dari Microsoft

banyak perusahaan yang menggunakan Word untuk aplikasi perkantorannya.  Dan Word merupakan keahlian dasar yang harus dimiliki oleh pengguna komputer, apalagi programmer komputer

Microsoft Excel

Microsoft Office Excel adalah sebuah program aplikasi lembar kerja spreadsheet yang dibuat dan didistribusikan oleh Microsoft Corporation untuk sistem operasi Microsoft Windows dan Mac OS. Aplikasi ini memiliki fitur kalkulasi dan pembuatan grafik yang, dengan menggunakan strategi marketing Microsoft yang agresif, menjadikan Microsoft Excel sebagai salah satu program komputer yang populer digunakan di dalam komputer mikro hingga saat ini. Bahkan, saat ini program ini merupakan program spreadsheet paling banyak digunakan oleh banyak pihak, baik di platform PC berbasis Windows maupun platform Macintosh berbasis Mac OS, semenjak versi 5.0 diterbitkan pada tahun 1993. Aplikasi ini merupakan bagian dari Microsoft Office System, dan versi terakhir adalah versi Microsoft Office Excel 2007 yang diintegrasikan di dalam paket Microsoft Office Microsoft Power Point

Microsoft Office PowerPoint adalah sebuah program komputer untuk presentasi yang dikembangkan oleh Microsoft di dalam paket aplikasi kantoran mereka, Microsoft Office, selain Microsoft Word, Excel, Access dan beberapa program lainnya. PowerPoint berjalan di atas komputer PC berbasis sistem operasi Microsoft Windows dan juga Apple Macintosh yang menggunakan sistem operasi Apple Mac OS, meskipun pada awalnya aplikasi ini berjalan di atas sistem operasi Xenix. Aplikasi ini sangat banyak digunakan, apalagi oleh kalangan perkantoran dan pebisnis, para pendidik, siswa, dan trainer. Dimulai pada versi Microsoft Office System 2003, Microsoft mengganti nama dari sebelumnya Microsoft PowerPoint saja menjadi Microsoft Office PowerPoint. Versi terbaru dari PowerPoint adalah versi 12 (Microsoft Office PowerPoint 2007), yang tergabung ke dalam paket Microsoft Office System 2007.

Microsoft Access

Microsoft Office Access adalah sebuah program aplikasi basis data komputer relasional yang ditujukan untuk kalangan rumahan dan perusahaan kecil hingga menengah. Aplikasi ini merupakan anggota dari beberapa aplikasi Microsoft Office, selain tentunya Microsoft Word, Microsoft Excel, dan Microsoft PowerPoint. Aplikasi ini menggunakan mesin basis data Microsoft Jet Database Engine, dan juga menggunakan tampilan grafis yang intuitif sehingga memudahkan pengguna. Versi terakhir adalah Microsoft Office Access 2007 yang termasuk ke dalam Microsoft Office System 2007.

Microsoft Access dapat menggunakan data yang disimpan di dalam format Microsoft Access, Microsoft Jet Database Engine, Microsoft SQL Server, Oracle Database, atau semua kontainer basis data yang mendukung standar ODBC. Para pengguna/programmer yang mahir dapat menggunakannya untuk mengembangkan perangkat lunak aplikasi yang kompleks, sementara para programmer yang kurang mahir dapat menggunakannya untuk mengembangkan perangkat lunak aplikasi yang sederhana. Access juga mendukung teknik-teknik pemrograman berorientasi objek, tetapi tidak dapat digolongkan ke dalam perangkat bantu pemrograman berorientasi objek.